Tuesday, February 04, 2020



Beach Getaway to French Riviera 






Musim panas di Eropa bukanlah musim yang menyenangkan. Suhu cuaca di kota tempat tinggal saya, Toulouse, bisa mencapai 35 derajat di siang hari. Bagi saya, ini adalah tanda untuk segera pergi berlibur. Kemana? Yah apalagi kalau bukan pantai. Untuk tujuan kali ini, saya menunjuk untuk pergi menikmati pemandangan pantai Mediterania, French Riviera, menuju kota-kota cantik di Prancis Selatan. Riviera sendiri dalam bahasa Italy mempunyai arti ‘coastline’.

Ada dua cara menuju kesana, dengan kereta api atau pesawat terbang. Karena waktu memesan saya cukup mepet, hanya  dua minggu sebelum waktu berangkatnya, pesawat terbang adalah solusi yang paling menarik. Ketika berpergian di Prancis, ada baiknya untuk selalu membandingkan harga kedua trannsportasi tersebut, karena  sistem tiket kereta api disini sama dengan pesawat terbang, apabila beli jauh hari akan mendapatkan harga yang lebih murah. Untuk menuju French Riviera, kota yang paling strategis untuk dikunjungi pertama adalah Nice.
Ketika hari berangkatnya tiba, saya terkejut karena ternyata pesawat yang akan saya naiki adalah pesawat kecil baling-baling. Dimana bagasi cabin saya saja tidak bisa diangkut ke dalam pesawat. Jadi, harus diletakkan di dekat tangga sebelum kita naik dan nantinya ada petugas yang akan mengambil bagasi kita. Begitu kita turun kita ambil lagi. Berasa seperti  naik Bus saja, yah!  
Nice
Begitu sampai Nice, kami langsung bergegas menuju hotel. Hotel kami ini letaknya dekat dengan stasiun kereta. Ini penting, karena kami berencana mengunjungi kota-kota lainnya dengan menggunakan kereta.
Tujuan pertama, kami menuju Catheau de Nice, letaknya ada di dekat Veulieux Nice (Kota Tua Nice). Dari sini kita bisa melihat pemandangan Nice dari ketinggian. Ada dua cara menuju Catheau tersebut, naik lift (gratis) dan naik tangga. Yah tentu saja kami memilih naik lift! Sampai diatas, pemandangan langsung menghadap Promenade des Anglais  dan pantai Nice terpampang depan mata. Indah sekali.  Bagi saya, Nice adalah perpaduan kecantikan Prancis dan Italy. Meskipun penduduk local berbahasa Prancis, tetapi Nice penuh dengan bangunan arsitektur berwarna pastel seperti Italy. Tidak heran, karena letak Nice begitu dekat dengan perbatasan Italy.
Puas mengagumi Nice dari atas, kami segera bergegas menuju pantai. Begitu sampai, saya kaget karena ternyata pantainya itu  batu!!!. Duh, sakit sekali apabila kita langsung menginjak tanpa alas kaki. Setelah nyebur sedikit, saya jadi parno sendiri karena takut jatuh terpeleset di batu-batu tersebut.
Kami kemudian memutuskan hanya berjalan-jalan di Promenade des Anglais, tempat dimana turis dan lokal bercampur baur untuk bersosialisasi dan berolahraga sambil meilhat orang-orang yang berenang atapun berjemur di pantai batu tersebut. Saya perhatikan, Nice ternyata punya pantai untuk umum  dan pantai privat. Di pantai privat, kita bisa menyewa tempat duduk dan payung  15 euro selama 6 jam. Yang saya salut, mereka juga membuat pantai yang bisa dilewati oleh orang yang menggunakan kursi roda.
Nice di tengah malam sangat hidup dengan cafe dan fine dining restaurant bertebaran dipenjuru kota. Restaurant disini juga bermacam variasinya, mulai dari masakan Prancis, Italy dan juga Asia. Saran saya, jangan lupa menikmati Gellato di Fennocio, terletak di Place Rosseti. Gellato ini menawarkan banyak rasa unik yang menarik, seperti rasa Viollete ataupun Tomato Basil. Yum!
Kebetukan kami datang bertepatan dengan hari libur keagamaan di Prancis. Di hari itu, pemerintah kota Nice akan membuat kembang api. Kembang api mulai dari jam 10 malam. Selama 20 menit, lampu kota Nice dimatikan. Dalam keadaan gelap gulita, kita menikmati kembang api yang dinyalakan dari dua kapal laut di ujung pantai Nice. It was beyond beautiful.
Monaco



Keesokan harinya, kami langsung bergegas menuju Monaco. Yes, we are vsiting our twin country. Negara dengan bendera merah putih ini hanya berjarak setengah jam dari Nice. Tiketnya pun kami hanya membayar 3.7 euro sekali jalan. Selain kereta, terdapat juga bus yang menghubungkan dari Nice ke Monaco.  Sampai disana, udara Monaco sedang panas-panasnya. Tetapi hal itu tidak mengurangi semangat kami untuk segera menjelajah Monaco yang sangat cantik. Luxury memang adalah identitas yang sangat jelas dari Monaco. Hal ini terlihat dari Yatch yang berjajar di harbour Monaco, luxury boutique brands dan mobil mewah menghias semua sudut Monaco.  Tujuan kami disitu ada dua, pertama dan tentu saja ke Monte Carlo yang terkenal itu, dan bagi partner, dia mau bernapak tilas rute F1 Monaco.
Monte Carlo sendiri adalah sebuah ‘wealthy’ distrik di Monaco. Casino nya adalah salah satu icon yang terkenal dari distrik ini. Monte Carlo Casino dibangun sejak  tahun 1863. Monte Carlo Casino sendiri buka untuk umum. Sedikit tip, datanglah kesana setelah jam 2 siang, karena Casino ini akan dibuka gratis. Penasaran, kami masuk ke Casino tersebut dan ikut mencoba bermain. Di dalam Casino, Saya terpesona dengan interior yang terlihat mewah dan glamour. 
Lalu kami bergerak menuju Palais Princier de Monaco, istana tempat kediaman kerajaan Monaco. Biasa melihat istana Eropa yang cantik, saya terkejut karena bentuk istananya biasa saja, malah bentuknya lebih terlihat seperti benteng. Monaco juga mempunyai museum Oseanografi yang cukup terkenal. Apabila membawa anak kecil,  kita bisa membawa mereka kesana untuk melihat binatang laut.
Monaco juga terkenal oleh Formule 1 race yang termasuk pertama di dunia. F1 ini juga unik, karena race nya ada di dalam kota Monaco sendiri, tidak di jalur tersendiri seperti yang F1 lainnya. Di dekat Port Monaco, kita bisa melihat bekas dari titik start F1. F1 Monaco sendiri biasanya ada di bulan Mei. Lebih baik hindari ke Monaco di bulan Mei apabila Anda bukan penggemar F1, karena dimana-mana hotel akan mahal dan turis akan sangat membludak.
Cannes
Hari berikutnya, kami memutuskan untuk ke Cannes, kota tepi laut yang terkenal dengan Festival Film Cannes, festival film yang paling terkenal di Eropa dan juga dunia. Cannes meskipun sama ditempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit, ternyata harga tiketnya lebih mahal dibanding ke Monaco.
Setelah melihat Monaco dan Nice, Cannes ternyata kurang menarik untuk saya, dan udaranya lebih panas. Karena itu, kami memutuskan untuk naik kereta  eskursi kecil yang membawa kami menyusuri Cannes. Cannes sendiri kota yang tidak besar, namun jarak dari satu tempat ke tempat lainnya cukup jauh. Dari kereta ini, kami menyusuri pantai (yang btw dari pasir tidak batu seperti Nice) dan menyaksikan private beach terkenal, Palm Beach dan melewati hotel Intercontinental Carlton Cannes yang terkenal dengan biasa ditempati oleh bintang-bintang besar ketika datang mengunjungi Festival Film Cannes.
Tak lupa, kami mengunjungi Palais de Festival, gedung dimana tempat diselenggarakan Festival Film Cannes. Disana kami juga melihat cetakan handprint dari bintang yang pernah mengunjungi Cannes.
Villefrance-sur-mer
Tengah hari kami kembali ke Nice, untuk segera menuju kota di tepi pantai yang lain, Villefrance-sur-mer. Kota ini sebenarnya tidak berada di itinerary kami. Kota ini seperti ‘hidden gem’ yang kami temukan di French Riviera. Siapa yang bisa menolak hamparan pantai yang dikelilingi oleh tebing dan bukit yang cantik. Pasirnya sendiri lebih merupakan pebble-like. Empuk dan mudah dibersihkan. Air laut Mediteriania di musim panas juga tidak terlalu dingin, malah sangat menyegarkan. Pemandangan yang indah dan air laut yang hangat merupakan pengalaman yang tak ternilai dari perjalanan kali ini.

Puas bermain di pantai, kami menyusuri pusat kota Villefrance-sur-mer. Kota kecil ini ternyata bernuansa kental kekhasan Italy. Perumahan yang berwarna pastel dan berbukit-bukit, restauran dan café yang banyak berjajar menyelip diantara gang bukit-bukit tersebut dan suasana yang romantis. Apalagi ketika malam mulai menyapa dan kota disinari oleh lampu kota. Dinner di kota kecil ini merupakan penutup yang manis dari perjalanan kami menyusuri kota-kota cantik di French Rivera.
Bulan Mendota
Tips Travelling menyusuri French Riviera
-          Nice bisa ditempuh dari Paris sekitar 1 jam naik pesawat dan 5,5 jam dengan menggunakan kereta cepat TGV. Dari Milan, Nice berjarak sekitar 5 jam dengan menggunakan kereta.
-          Musim panas adalah musim terpadat dari kawasan French Rivera, disarankan untuk reservasi  3-4 bulan sebelumnya untuk mendapatkan harga terbaik baik untuk akomodasi dan transportasi.
-          Jangan lupa bawa perlengkapan berwisata di pantai dengan lengkap ( handuk, payung, tikar, kain Bali, sunblock, dll ) karena akan susah mencari toko di dekat pantai, apalagi dengan harga yang terjangkau.
-          Apalagi punya  banyak waktu, jangan ragu untuk beach-hopping ke kota yang lain di sekitar Nice dan Monaco.
-          Jangan lupa bawa sepatu yang berbahan karet (seperti crocs,dll) karena pasir batu di Nice akan lebih enak kalau memakai alas kaki tersebut.
-          Kota-kota di French Riviera sebanarnya tidak besar dan bisa dijelajah dengan berjalan kaki. Namun, jangan ragu untuk mencoba bus, tram ataupun kereta eskursi yang tersedia di kota tersebut.
-          Suhu udara di musim panas sekitar 25-35 derajat celcius. Udara ini bahkan lebih panas dari Indonesia, jangan lupa untuk selalu menggunakan sunblock ketika hendak berjemur ataupun berpergian.




Beach Getaway to French Riviera 
Musim panas di Eropa bukanlah musim yang menyenangkan. Suhu cuaca di kota tempat tinggal saya, Toulouse, bisa mencapai 35 derajat di siang hari. Bagi saya, ini adalah tanda untuk segera pergi berlibur. Kemana? Yah apalagi kalau bukan pantai. Untuk tujuan kali ini, saya menunjuk untuk pergi menikmati pemandangan pantai Mediterania, French Riviera, menuju kota-kota cantik di Prancis Selatan. Riviera sendiri dalam bahasa Italy mempunyai arti ‘coastline’.

Ada dua cara menuju kesana, dengan kereta api atau pesawat terbang. Karena waktu memesan saya cukup mepet, hanya  dua minggu sebelum waktu berangkatnya, pesawat terbang adalah solusi yang paling menarik. Ketika berpergian di Prancis, ada baiknya untuk selalu membandingkan harga kedua trannsportasi tersebut, karena  sistem tiket kereta api disini sama dengan pesawat terbang, apabila beli jauh hari akan mendapatkan harga yang lebih murah. Untuk menuju French Riviera, kota yang paling strategis untuk dikunjungi pertama adalah Nice.
Ketika hari berangkatnya tiba, saya terkejut karena ternyata pesawat yang akan saya naiki adalah pesawat kecil baling-baling. Dimana bagasi cabin saya saja tidak bisa diangkut ke dalam pesawat. Jadi, harus diletakkan di dekat tangga sebelum kita naik dan nantinya ada petugas yang akan mengambil bagasi kita. Begitu kita turun kita ambil lagi. Berasa seperti  naik Bus saja, yah!  
Nice
Begitu sampai Nice, kami langsung bergegas menuju hotel. Hotel kami ini letaknya dekat dengan stasiun kereta. Ini penting, karena kami berencana mengunjungi kota-kota lainnya dengan menggunakan kereta.
Tujuan pertama, kami menuju Catheau de Nice, letaknya ada di dekat Veulieux Nice (Kota Tua Nice). Dari sini kita bisa melihat pemandangan Nice dari ketinggian. Ada dua cara menuju Catheau tersebut, naik lift (gratis) dan naik tangga. Yah tentu saja kami memilih naik lift! Sampai diatas, pemandangan langsung menghadap Promenade des Anglais  dan pantai Nice terpampang depan mata. Indah sekali.  Bagi saya, Nice adalah perpaduan kecantikan Prancis dan Italy. Meskipun penduduk local berbahasa Prancis, tetapi Nice penuh dengan bangunan arsitektur berwarna pastel seperti Italy. Tidak heran, karena letak Nice begitu dekat dengan perbatasan Italy.
Puas mengagumi Nice dari atas, kami segera bergegas menuju pantai. Begitu sampai, saya kaget karena ternyata pantainya itu  batu!!!. Duh, sakit sekali apabila kita langsung menginjak tanpa alas kaki. Setelah nyebur sedikit, saya jadi parno sendiri karena takut jatuh terpeleset di batu-batu tersebut.
Kami kemudian memutuskan hanya berjalan-jalan di Promenade des Anglais, tempat dimana turis dan lokal bercampur baur untuk bersosialisasi dan berolahraga sambil meilhat orang-orang yang berenang atapun berjemur di pantai batu tersebut. Saya perhatikan, Nice ternyata punya pantai untuk umum  dan pantai privat. Di pantai privat, kita bisa menyewa tempat duduk dan payung  15 euro selama 6 jam. Yang saya salut, mereka juga membuat pantai yang bisa dilewati oleh orang yang menggunakan kursi roda.
Nice di tengah malam sangat hidup dengan cafe dan fine dining restaurant bertebaran dipenjuru kota. Restaurant disini juga bermacam variasinya, mulai dari masakan Prancis, Italy dan juga Asia. Saran saya, jangan lupa menikmati Gellato di Fennocio, terletak di Place Rosseti. Gellato ini menawarkan banyak rasa unik yang menarik, seperti rasa Viollete ataupun Tomato Basil. Yum!
Kebetukan kami datang bertepatan dengan hari libur keagamaan di Prancis. Di hari itu, pemerintah kota Nice akan membuat kembang api. Kembang api mulai dari jam 10 malam. Selama 20 menit, lampu kota Nice dimatikan. Dalam keadaan gelap gulita, kita menikmati kembang api yang dinyalakan dari dua kapal laut di ujung pantai Nice. It was beyond beautiful.
Monaco
Keesokan harinya, kami langsung bergegas menuju Monaco. Yes, we are vsiting our twin country. Negara dengan bendera merah putih ini hanya berjarak setengah jam dari Nice. Tiketnya pun kami hanya membayar 3.7 euro sekali jalan. Selain kereta, terdapat juga bus yang menghubungkan dari Nice ke Monaco.  Sampai disana, udara Monaco sedang panas-panasnya. Tetapi hal itu tidak mengurangi semangat kami untuk segera menjelajah Monaco yang sangat cantik. Luxury memang adalah identitas yang sangat jelas dari Monaco. Hal ini terlihat dari Yatch yang berjajar di harbour Monaco, luxury boutique brands dan mobil mewah menghias semua sudut Monaco.  Tujuan kami disitu ada dua, pertama dan tentu saja ke Monte Carlo yang terkenal itu, dan bagi partner, dia mau bernapak tilas rute F1 Monaco.
Monte Carlo sendiri adalah sebuah ‘wealthy’ distrik di Monaco. Casino nya adalah salah satu icon yang terkenal dari distrik ini. Monte Carlo Casino dibangun sejak  tahun 1863. Monte Carlo Casino sendiri buka untuk umum. Sedikit tip, datanglah kesana setelah jam 2 siang, karena Casino ini akan dibuka gratis. Penasaran, kami masuk ke Casino tersebut dan ikut mencoba bermain. Di dalam Casino, Saya terpesona dengan interior yang terlihat mewah dan glamour. 
Lalu kami bergerak menuju Palais Princier de Monaco, istana tempat kediaman kerajaan Monaco. Biasa melihat istana Eropa yang cantik, saya terkejut karena bentuk istananya biasa saja, malah bentuknya lebih terlihat seperti benteng. Monaco juga mempunyai museum Oseanografi yang cukup terkenal. Apabila membawa anak kecil,  kita bisa membawa mereka kesana untuk melihat binatang laut.
Monaco juga terkenal oleh Formule 1 race yang termasuk pertama di dunia. F1 ini juga unik, karena race nya ada di dalam kota Monaco sendiri, tidak di jalur tersendiri seperti yang F1 lainnya. Di dekat Port Monaco, kita bisa melihat bekas dari titik start F1. F1 Monaco sendiri biasanya ada di bulan Mei. Lebih baik hindari ke Monaco di bulan Mei apabila Anda bukan penggemar F1, karena dimana-mana hotel akan mahal dan turis akan sangat membludak.
Cannes
Hari berikutnya, kami memutuskan untuk ke Cannes, kota tepi laut yang terkenal dengan Festival Film Cannes, festival film yang paling terkenal di Eropa dan juga dunia. Cannes meskipun sama ditempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit, ternyata harga tiketnya lebih mahal dibanding ke Monaco.
Setelah melihat Monaco dan Nice, Cannes ternyata kurang menarik untuk saya, dan udaranya lebih panas. Karena itu, kami memutuskan untuk naik kereta  eskursi kecil yang membawa kami menyusuri Cannes. Cannes sendiri kota yang tidak besar, namun jarak dari satu tempat ke tempat lainnya cukup jauh. Dari kereta ini, kami menyusuri pantai (yang btw dari pasir tidak batu seperti Nice) dan menyaksikan private beach terkenal, Palm Beach dan melewati hotel Intercontinental Carlton Cannes yang terkenal dengan biasa ditempati oleh bintang-bintang besar ketika datang mengunjungi Festival Film Cannes.
Tak lupa, kami mengunjungi Palais de Festival, gedung dimana tempat diselenggarakan Festival Film Cannes. Disana kami juga melihat cetakan handprint dari bintang yang pernah mengunjungi Cannes.
Villefrance-sur-mer
Tengah hari kami kembali ke Nice, untuk segera menuju kota di tepi pantai yang lain, Villefrance-sur-mer. Kota ini sebenarnya tidak berada di itinerary kami. Kota ini seperti ‘hidden gem’ yang kami temukan di French Riviera. Siapa yang bisa menolak hamparan pantai yang dikelilingi oleh tebing dan bukit yang cantik. Pasirnya sendiri lebih merupakan pebble-like. Empuk dan mudah dibersihkan. Air laut Mediteriania di musim panas juga tidak terlalu dingin, malah sangat menyegarkan. Pemandangan yang indah dan air laut yang hangat merupakan pengalaman yang tak ternilai dari perjalanan kali ini.

Puas bermain di pantai, kami menyusuri pusat kota Villefrance-sur-mer. Kota kecil ini ternyata bernuansa kental kekhasan Italy. Perumahan yang berwarna pastel dan berbukit-bukit, restauran dan café yang banyak berjajar menyelip diantara gang bukit-bukit tersebut dan suasana yang romantis. Apalagi ketika malam mulai menyapa dan kota disinari oleh lampu kota. Dinner di kota kecil ini merupakan penutup yang manis dari perjalanan kami menyusuri kota-kota cantik di French Rivera.
Bulan Mendota
Tips Travelling menyusuri French Riviera
-          Nice bisa ditempuh dari Paris sekitar 1 jam naik pesawat dan 5,5 jam dengan menggunakan kereta cepat TGV. Dari Milan, Nice berjarak sekitar 5 jam dengan menggunakan kereta.
-          Musim panas adalah musim terpadat dari kawasan French Rivera, disarankan untuk reservasi  3-4 bulan sebelumnya untuk mendapatkan harga terbaik baik untuk akomodasi dan transportasi.
-          Jangan lupa bawa perlengkapan berwisata di pantai dengan lengkap ( handuk, payung, tikar, kain Bali, sunblock, dll ) karena akan susah mencari toko di dekat pantai, apalagi dengan harga yang terjangkau.
-          Apalagi punya  banyak waktu, jangan ragu untuk beach-hopping ke kota yang lain di sekitar Nice dan Monaco.
-          Jangan lupa bawa sepatu yang berbahan karet (seperti crocs,dll) karena pasir batu di Nice akan lebih enak kalau memakai alas kaki tersebut.
-          Kota-kota di French Riviera sebanarnya tidak besar dan bisa dijelajah dengan berjalan kaki. Namun, jangan ragu untuk mencoba bus, tram ataupun kereta eskursi yang tersedia di kota tersebut.
-          Suhu udara di musim panas sekitar 25-35 derajat celcius. Udara ini bahkan lebih panas dari Indonesia, jangan lupa untuk selalu menggunakan sunblock ketika hendak berjemur ataupun berpergian.




0 Comments:

Post a Comment

<< Home